Analisis Resiko

1. Sumber - Sumber Resiko
Secara sederhana, analisis resiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisisnya untuk memastikan hasil pembongkaran, dan meyoroti bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis resiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah sistem atau lingkungan (ISO 1779, “An Introduction to Risk Analysis”, 2012).
Resiko bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, ada dari pihak internal maupun ekternal. Berikut sumber-sumber resiko:

  1. Internasional: Ketidakstabilan pemerintah lokal (setempat), Ketidakstabilan kebijakan pemerintah setempat, Pengambilalihan perusahaan oleh pemerintah setempat, Resiko perubahan kurs mata uang, dan Resesi dunia.
  2. Domestik: Resesi, Inflasi atau deflasi, Perubahan tingkat suku bunga, Perubahan demografis, Perubahan kebijakan dalam negeri, dan Perubahan politik dalam negeri.
  3. Industri: Perubahan teknologi, Persaingan, Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industri (misal, pembeli semakin kuat), dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan industri.
  4. Perusahaan: Perubahan manajemen, Perubahan strategi, Resiko terkena bencana (seperti kebakaran), dan Resiko terkena tuntutan hukum.

2. Kategori Resiko
- Resiko Jangka Pendek
Resiko likuiditas jangka pendek membutuhkan suatu pemahaman tentang siklus operasi perusahaan. Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan menilai Resiko likuiditas jangka pendek adalah sebagai berikut:

  • Rasio Lancar (Current Ratio). Current Ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. Semakin tinggi current ratio maka semakin likuid suatu perusahaan dan sebaliknya. Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah aset‑aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang‑hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat (tidak lebih dari satu tahun), pada tanggal tertentu seperti tercantum pada neraca. 
  • Rasio Cepat (Quick Ratio). Quick Ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. Semakin tinggi quick ratio maka semakin likuid suatu perusahaan dan sebaliknya. Persediaan dikeluarkan karena dianggap sebagai aktiva lancar yang paling tidak likuid. Secara umum, informasi dari quick ratio akan sama (searah) dengan informasi dari rasio lancar. 
  • Rasio aliran kas operasional terhadap hutang lancar (operating cah flow to current liabilities). Rasio ini menunjukan sejauhmana kas yang dihasilkan dari operasi dapat menutupi kewajiban lancar perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin rendah resiko yang dihadapi perusahaan. Rumus untuk rasio ini adalah aliran kas dari operasi (sebelum item‑item luar biasa) / rata‑rata hutang lancar. Studi empiris di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa Rasio aliran kas terhadap hutang lancar untuk kondisi bisnis yang sehat adalah sekitar 0,4 atau lebih. Pada industri yang relatif sudah memasuki tahap kedewasaan, secara umum tidak akan kesulitan memperoleh surplus kas dari operasi mereka.
  • Rasio aktivitas modal kerja. Rasio aktivitas modal kerja menghitung seberapa cepat modal kerja berputar, atau menghitung seberapa lama dana tertanam di modal kerja. Beberapa rasio: Rata-rata umur piutang, rata-rata umur persediaan, rata-rata umur hutang

- Resiko Jangka Panjang
Resiko solvabilitas jangka panjang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga dan angsuran pinjaman atas utang jangka panjang dan untuk memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo.
Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai resiko solvabilitas jangka panjang adalah:

  • Rasio utang jangka panjang (long term debt ratio). Rasio ini menunjukan seberapa besar total utang yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai aktivitasnya. Semakin besar rasio ini maka semakin besar pula resiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula resiko yang dihadapi perusahaan.
  • Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio). Rasio ini menunjukan seberapa besar total utang yang dimiliki oleh perusahaan jika dibandingkan dengan ekuitas. Semakin besar rasio ini maka semakin besar pula resiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula resiko yang dihadapi perusahaan.
  • Rasio kewajiban terhadap aktiva (liabilities to assets ratio). Rasio ini menunjukan seberapa besar utang yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin besar pula resiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio perusahaan maka semakin kecil pula resiko yang dihadapi perusahaan.
  • Rasio cakupan bunga (coverage rasio interest). Rasio ini menunjukan sejauhmana kemampuan perusahaan untuk dapay menutupi atau memenuhi kewajiban bunga atas pinjamannya kepada kreditor. Rasio ini mengukur berapa kali pendapatan sebelum bunga dan pajak bisa menutup bunga (EBIT).
  • Rasio aliran kas operasional terhadap total hutang (operating cash flow to total liabilities ratio). Rasio ini menunjukan sejauhmana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari kegiatan operasi untuk menutupi atau memenuhi seluruh kewajibannya. Rasio ini melihat kemampuan perusahaan menghasilkan aliran kas untuk menutup kewajibannya. Aliran kas dari operasi bisa dilihat dari laporan aliran kas, yaitu dalam komponen operasi. 
  • Rasio aliran kas operasional terhadap pengeluaran modal ( operating cash flow to capital expenditure). Rasio ini menunjukan seberapa besar pengunaan arus kas operasi yang dihasilkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pengeluaran modal. Analisis ini memberi informasi besarnya aliran kas untuk menutup pengeluaran modal yang diperlukan untuk investasi memelihara dan membangun pabrik dan bangunan. Kelebihan kas tersebut bisa dipakai untuk membayar hutang dengan bunganya. 
Analisis Resiko
- Sumber-sumber resiko
- Resiko likuiditas jangka pendek
- Resiko likuiditas jangka panjang


No comments:

Post a Comment